Workspace

Kapten Rimau

Manage IP context and characters here. Generation is now scoped to its own route so this workspace can stay focused on editing.

IP Name
Choose a clear, recognizable name for your IP.

Keep the name concise and recognizable for routing, search, and generation context.

Description / Tone Bible
Describe the world, tone, themes, and key elements that define your IP.

MASTER SCRIPT DATABASE — KAPTEN RIMAU

Panduan script carousel, Reels, visual cues, caption, dan prompt produksi

Gunakan dokumen ini sebagai acuan utama untuk membuat konten Kapten Rimau: sejarah, pertempuran, pengorbanan, keluarga, kepemimpinan, intelijen, istilah militer, dan keterampilan praktis.


1. CORE IDENTITY

Kapten Rimau adalah IP storytelling Indonesia yang menghidupkan sejarah, perjuangan, kepemimpinan, keberanian, pengabdian, dan nilai kemanusiaan melalui karakter original sebagai narrator atau saksi.

Kapten Rimau bukan akun sejarah seperti buku pelajaran dan bukan akun militer yang hanya menjual senjata, ledakan, atau kematian.

Setiap konten harus:

  • berangkat dari fakta (jangan mengarang cerita. riset dengan clear dan pastikan ambil dari sumber yang kredibel),
  • punya konflik dan pusat emosi,
  • memperlihatkan sisi manusia tokoh (jika mengangkat cerita pahlawan, buatkan karakter pahlawan tersebut sebagai karakter pendamping visual tiap slide),
  • menghormati tokoh serta korban,
  • heroik tanpa propaganda kosong,
  • mudah dipahami Gen Z,
  • punya legacy atau refleksi.

Vibe utama:

Dokumenter sejarah sinematik dengan character-driven storytelling yang emosional.

STYLE VISUAL

Visual HARUS memakai gaya 2D action-cartoon semi-realistis yang meniru nuansa Thundercats 2011, tetapi dibawa ke tone historical-war drama yang lebih emosional dan sinematik. Karakter dibuat heroic dan anatomis, dengan wajah tegas, bentuk tubuh kuat, siluet jelas, dan ekspresi serius yang terasa tertahan, bukan berlebihan. Untuk karakter hewan antropomorfik seperti Kapten Rimau, desainnya tetap stylized, tapi armor, pose, dan gesturnya dibuat terasa gagah, membumi, dan dramatis. UKURAN GAMBAR 1:1

Line art memakai outline tegas, bersih, dan dinamis, khas kartun aksi 2010-an. Shading menggunakan cel-shading lembut dengan sentuhan painterly, jadi tetap terasa 2D, tapi punya volume, depth, dan bobot emosional. Palet warna cenderung earthy dan muted: cokelat, hijau zaitun, abu gelap, krem kusam, merah marun, dan highlight kuning-amber. Lighting dibuat cinematic dan kontras, dengan kombinasi warm rim light, bayangan dalam, asap, debu, dan langit dramatis, supaya suasananya terasa heroik, tegang, dan penuh perjuangan.

Mood keseluruhannya adalah epik, patriotik, emosional, dan sinematik — seperti adegan perjuangan dalam film animasi aksi, bukan kartun lucu, bukan 3D glossy, dan bukan semi-flat comedy style.

ARAHAN PEMILIHAN TOPIK & PENULISAN SCRIPT

Setiap topik Kapten Rimau wajib berasal dari real case, kejadian nyata, tokoh nyata, tempat nyata, atau kisah nyata yang dapat ditelusuri sumbernya. Jangan membuat cerita fiktif, tokoh gabungan, atau kejadian rekaan lalu menyajikannya seolah-olah sebagai fakta sejarah.

Sebelum menulis script, cek terlebih dahulu apakah tokoh, waktu, lokasi, hubungan antartokoh, konflik, dan keputusan utamanya benar-benar tercatat. Gunakan minimal dua sumber kredibel untuk detail penting, serta bedakan mana fakta pasti, anekdot, cerita populer, dan bagian yang masih diperdebatkan.

Ide kreatif harus muncul dari cara menemukan human angle dalam kisah nyata, seperti keluarga, janji, pengorbanan, persahabatan, benda pribadi, pilihan sulit, atau kepemimpinan. Setiap script wajib dibuat dari fakta yang sudah diriset, bukan dari asumsi atau dramatisasi bebas. Sebelum menulis, pastikan tokoh, waktu, lokasi, hubungan antartokoh, kronologi, kutipan, dan hasil kejadian punya sumber yang jelas. Untuk detail penting, usahakan cek lebih dari satu sumber.

Script harus tetap menarik, tetapi jangan hiperbola sampai mengubah fakta. Hindari melebih-lebihkan jumlah, keberanian, kondisi medan, hubungan personal, dialog, atau dampak kejadian jika tidak tercatat. Jangan menambahkan adegan, ucapan, perasaan, atau keputusan tokoh hanya karena terdengar lebih dramatis.

Prinsip utamanya:

Bikin faktanya terasa kuat, bukan membuat fakta baru supaya ceritanya terasa kuat.
Dramatisasi hanya boleh digunakan pada atmosfer, gestur, komposisi visual, angle kamera, dan transisi. Dramatisasi tidak boleh mengubah fakta utama, identitas tokoh, hasil kejadian, kronologi penting, kutipan, hubungan keluarga, atau jumlah korban.

ARAHAN PENULISAN SCRIPT

Script Kapten Rimau harus ditulis seperti storytelling pendek yang cepat, visual, dan emosional, bukan rangkuman sejarah. Setiap slide atau scene hanya membawa satu informasi utama dengan kalimat pendek, konkret, dan mudah dibaca keras. Awali dengan hook yang langsung menunjukkan konflik atau keunikan, lalu susun alur: setup → escalation → keputusan/reveal → dampak → legacy atau refleksi.

Untuk carousel, gunakan 5–7 slide termasuk cover, dengan format ideal cover + 4–6 slide isi. Teks narasi per slide sekitar 25–45 kata; untuk slide climax atau emotional payoff boleh sampai 50 kata, tetapi usahakan tidak lebih. Text on slide maksimal 4–8 kata. Setiap slide harus punya fungsi berbeda dan membawa cerita maju, bukan mengulang slide sebelumnya.

Untuk Reels, gunakan 6–8 scene dengan durasi sekitar 30–60 detik. Naskah per scene idealnya 8–18 kata, atau maksimal 1–2 kalimat pendek. Total monolog sekitar 100160 kata untuk durasi 45–60 detik. Scene pertama harus langsung menjadi hook, sedangkan scene terakhir cukup berisi takeaway atau CTA singkat.

Gunakan gaya bahasa casual dan punchy: mulai dari hal yang dekat dengan audiens, gunakan perbandingan sederhana, dan prioritaskan kata kerja aktif. Hindari pembukaan panjang, data bertumpuk, paragraf akademis, pengulangan fakta, dan CTA yang terlalu memaksa. Untuk kisah duka, beri ruang transisi dari momen hangat menuju tragedi agar payoff emosinya terasa.

Pilih pola berdasarkan jenis cerita: heroic last stand untuk pengorbanan, happy to tragic untuk keluarga atau cinta, curiosity to insight untuk istilah dan teknik, trait to respect untuk leadership, serta odd profession to high risk untuk intelijen. Gunakan satu pola utama per konten supaya script tetap fokus.


2. POSITIONING

Kapten Rimau memosisikan patriotisme sebagai sesuatu yang manusiawi.

Tokoh sejarah bukan patung tanpa rasa takut. Mereka adalah anak, pasangan, orang tua, saudara, guru, pemimpin, bawahan, atlet, atau warga biasa yang menghadapi pilihan sulit.

Setiap konten minimal memberikan:

  1. satu fakta atau sudut sejarah baru,
  2. satu emosi atau nilai yang tertinggal.

Framing Sensitif

Jika detail belum pasti, gunakan:

  • “berdasarkan catatan sejarah…”
  • “menurut sumber yang tersedia…”
  • “dalam kisah yang banyak diceritakan…”
  • “menurut kesaksian yang tersedia…”

Pisahkan fakta, interpretasi, dan dramatisasi visual.

Untuk konflik politik atau militer, fokus pada manusia, keputusan, dan dampaknya. Jangan menarik tuduhan kepada kelompok masa kini atau meromantisasi penderitaan.


3. TONE UTAMA

Tone Kapten Rimau:

  • cinematic,
  • heroic,
  • human,
  • emotional,
  • respectful,
  • reflective,
  • grounded,
  • Gen-Z friendly.

Alur rasa ideal:

Curiosity → Connection → Tension → Impact → Reflection.

Tone per Konten

Pertempuran: cepat, tegang, besar, tanpa gore.

Keluarga: hangat terlebih dahulu, lalu patah hati bertahap.

Leadership: karismatik dan dibuktikan lewat tindakan.

Military Facts: ringan, clean, informatif.

Life Skill: praktis, ramah, mudah dicoba.

Modern Hero: optimistis dan membanggakan.

Kapten Rimau boleh dramatis, tetapi jangan melodramatis. Boleh heroik, tetapi jangan menjadi propaganda. Boleh sedih, tetapi jangan mengeksploitasi kematian.


4. GAYA BAHASA

Gunakan bahasa Indonesia casual, cepat, dan enak dibaca keras.

Gunakan “gak”, bukan “nggak”.

Gunakan “kalian” untuk menyapa audiens luas. “Lu/gua” hanya untuk konten sangat santai, bukan narasi duka.

Gunakan detail konkret seperti:

  • meja makan,
  • parfum,
  • surat,
  • foto,
  • kursi kosong,
  • baret,
  • bayonet,
  • radio,
  • jembatan,
  • nisan.

Batasi jargon militer. Jika digunakan, langsung jelaskan secara sederhana.

Frasa Khas

  • “Bayangin…”
  • “Harusnya dia bisa selamat.”
  • “Tapi dia memilih balik.”
  • “Satu keputusan itu mengubah semuanya.”
  • “Di balik seragamnya…”
  • “Ini bukan cuma soal perang.”
  • “Gak ada yang nyangka…”
  • “Sejak saat itu…”
  • “Tapi takdir berkata lain.”
  • “Sejarah mengenalnya sebagai…”
  • “Keluarganya mengenalnya sebagai…”

Gaya Penulisan

Bukan:

Beliau memiliki karakter kepemimpinan yang sangat memperhatikan bawahannya.

Tapi:

Begitu hak anak buahnya dipotong, meja rapat langsung digebrak. Buat Gatot Subroto, prajurit kecil gak boleh dibiarkan lapar.

Hindari:

  • “musuh bodoh,”
  • “mati konyol,”
  • “kematian paling keren,”
  • “pahlawan sejati gak pernah takut,”
  • glorifikasi pembunuhan,
  • deskripsi luka berlebihan.

6. CONTENT PILLARS

PILAR 1 — HEROIC LAST STAND

Kisah tokoh atau unit yang memilih bertahan atau berkorban agar orang lain selamat.

Pattern:

Situasi mustahil → pilihan bertahan → pengorbanan → aftermath → legacy.

Visual:

Parit, amunisi habis, bayonet, pasukan mundur, tokoh berdiri sendiri, bendera.

Hook:

  • “Harusnya dia mundur. Tapi dia berdiri sendirian.”
  • “Pelurunya habis. Tapi dia justru maju.”

PILAR 2 — HUMAN SIDE OF HEROES

Sisi hangat dan domestik tokoh besar.

Pattern:

Momen hangat → benda atau janji → foreshadow → tragedi → benda berubah makna.

Visual:

Rumah dinas, meja makan, keluarga, benda kecil, kursi kosong, foto.

Hook:

  • “Parfum ini awalnya cuma hadiah. Empat belas jam kemudian, semuanya berubah.”
  • “Sebelum jadi jenderal, dia cuma seorang Bapak.”

PILAR 3 — LOVE, FAMILY & FINAL PROMISE

Kisah pasangan, orang tua-anak, kakak-adik, guru-murid, dan janji yang diputus sejarah.

Pattern:

Hubungan → perpisahan → tugas → tragedi → wasiat atau warisan.

Visual:

Surat, tangan yang terlepas, rambut, pernikahan, anak yang belum sempat bertemu ayah, dua nisan.

Hook:

  • “Mau nikah, tapi malah dijemput maut duluan.”
  • “Kakak-adik ini berangkat bersama dan gugur di tempat yang sama.”

PILAR 4 — LEADERSHIP & CHARACTER

Sisi kepemimpinan yang terlihat lewat tindakan konkret.

Pattern:

Trait unik → tindakan kepada bawahan → konflik → warisan.

Visual:

Makan bersama prajurit, meja rapat digebrak, barisan taruna, pemakaman besar.

Hook:

  • “Dimaki ‘monyet’, tapi prajuritnya malah bangga.”
  • “Gayanya kayak preman, tapi anak buahnya memanggilnya Ayah.”

PILAR 5 — MILITARY INTELLIGENCE & TACTICS

Penyamaran, infiltrasi, pengumpulan informasi, dan strategi operasi.

Pattern:

Hook unik → membangun kepercayaan → risiko terbongkar → informasi penting → dampak misi.

Visual:

Penyamaran sipil, peta, radio, catatan, tatapan tajam, markas lawan.

Hook:

  • “Tentara nyamar jadi penjual duren?!”
  • “Kelihatannya pedagang. Padahal dia sedang mengumpulkan Info A1.”

PILAR 6 — ORIGIN OF MILITARY TERMS

Asal-usul istilah militer yang digunakan sehari-hari.

Pattern:

Istilah familiar → asal-usul → penjelasan → contoh penggunaan → CTA.

Visual:

Dokumen intelijen, tabel, kode, radar, split screen.

Hook:

  • “Sering bilang Info A1? Ternyata ini bukan slang tongkrongan.”
  • “Kenapa informasi paling valid disebut A1?”

PILAR 7 — MILITARY MINDSET & PRACTICAL SKILLS

Teknik fokus, napas, disiplin, survival ringan, atau kebiasaan militer yang relevan untuk sipil.

Pattern:

Masalah audiens → teknik → langkah praktis → manfaat realistis → challenge.

Visual:

Host, grafis, hitungan, animasi, demonstrasi.

Hook:

  • “Masih suka blank sebelum presentasi? Coba napas taktis ini.”
  • “Pola empat detik ini bisa bantu tubuh keluar dari mode panik.”

PILAR 8 — HISTORICAL TRAGEDY & MORAL CHOICE

Kisah pengkhianatan, loyalitas, atau keputusan yang punya konsekuensi tragis.

Pattern:

Tokoh sudah aman → pilihan moral → memilih tanggung jawab → tragedi → refleksi.

Visual:

Kendaraan berputar balik, jalan malam, kursi kosong, tangan gemetar, ruang sunyi.

Hook:

  • “Harusnya dia selamat, tapi memilih balik.”
  • “Adiknya jenderal TNI. Abangnya elit PKI.”

PILAR 9 — BATTLE & NATIONAL RESISTANCE

Pertempuran dan perlawanan dengan konteks strategi serta pengalaman manusia.

Pattern:

Konteks → posisi pasukan → eskalasi → turning point → makna.

Visual:

Peta, pasukan, parit, asap, kendaraan, keputusan komandan, aftermath.

Hook:

  • “Mending hidup nyaman tapi dijajah atau mati sebagai orang merdeka?”
  • “Saat peluru habis, mereka memilih mengangkat bayonet.”

PILAR 10 — MODERN HEROES & INDONESIA PRIDE

Tokoh nonmiliter yang mengabdi melalui olahraga, pendidikan, budaya, kesehatan, sains, atau pelayanan.

Pattern:

Tantangan → kerja keras → dampak → kebanggaan → definisi heroisme yang lebih luas.

Visual:

Atlet, guru, tenaga kesehatan, warga, bendera, aktivitas nyata.

Hook:

  • “Pahlawan gak selalu berdiri di medan perang.”
  • “Dia gak membawa senjata, tapi tetap membawa nama Indonesia.”

PILAR 11 — NAMA JALAN, TEMPAT & MONUMEN

Kisah manusia di balik tempat yang dilewati setiap hari.

Pattern:

Tempat masa kini → pertanyaan → flashback → kisah tokoh → kembali ke masa kini.

Visual:

Papan nama jalan, kendaraan, footage lokasi, monumen, makam, masyarakat modern.

Hook:

  • “Kalian lewat jalan ini tiap hari, tapi tahu gak siapa di balik namanya?”
  • “Namanya ada di papan jalan. Kisah manusianya hampir dilupakan.”

7. STRUKTUR CERITA

Cover: hook terbesar.

Slide 1: sisi manusia tokoh.

Slide 2: konteks, waktu, lokasi, atau misi.

Slide 3: konflik atau pilihan sulit.

Slide 4: climax atau keputusan utama.

Slide 5: aftermath dan dampak manusia.

Slide 6: legacy, relevansi masa kini, dan CTA.

REELS 7–8 SCENE

  1. Hook

Relatable setup

Nama tokoh atau konsep

Konteks

Escalation atau demonstrasi

Climax atau reveal

Takeaway

  1. CTA

FORMULA KHAS

Happy → Hancur

Hangat → benda atau janji → foreshadow → tragedi → perubahan makna → legacy.

Pilihan Mustahil

Dua pilihan → risiko → tokoh memilih jalan berat → konsekuensi → refleksi.

Tempat yang Menyimpan Luka

Tempat masa kini → flashback → tokoh atau tragedi → kembali ke masa kini.


8. FORMULA HOOK

Impossible Choice

Mending [aman tapi kehilangan nilai] atau [berbahaya tapi mempertahankan nilai]?

Harusnya Selamat, Tapi…

Harusnya dia [selamat], tapi memilih [tindakan berbahaya].

Benda Berubah Makna

[Benda biasa] yang berubah menjadi [simbol tragedi].

Hubungan Mustahil

[Hubungan keluarga], tapi berada di dua dunia berlawanan.

Profesi atau Penyamaran Absurd

Tentara [melakukan pekerjaan tak terduga]?!

Trait Kontradiktif

[Tokoh besar] yang punya kebiasaan tak terduga.

Origin Story

Sering bilang [istilah]? Ternyata asalnya dari [konteks militer].

Age Shock

Di umur [usia], dia sudah [tanggung jawab besar].

Number Disadvantage

[Jumlah kecil] melawan [jumlah jauh lebih besar].

Hidden Story Behind a Place

Kalian sering melewati [tempat], tapi tahu gak kisah di balik namanya?

Aturan Hook

  • satu ide utama,
  • konkret,
  • punya konflik,
  • jangan membocorkan semua payoff,
  • clicky boleh, menipu tidak,
  • tragedi harus tetap bermartabat,
  • jangan terlalu bergantung pada kata “maut”, “darah”, atau “mati”.

9. EMOTIONAL FLOW

Warmth to Tragedy

Hangat → detail kecil → janji → tragedi → kehilangan → legacy.

Hope to Sacrifice

Misi → terjepit → pilihan → pengorbanan → orang lain selamat.

Love to Eternal Memory

Hubungan → perpisahan → gugur → benda atau wasiat → kenangan.

Curiosity to Insight

Istilah familiar → asal-usul → mekanisme → makna.

Humor to Respect

Trait lucu → konteks → tindakan nyata → respect.

Payoff yang Baik

Payoff idealnya mengubah:

  • makna benda,
  • makna tempat,
  • persepsi terhadap tokoh,
  • pertanyaan audiens.

Dari:

“Apa yang terjadi?”

Menjadi:

“Apa yang akan gue pilih?”

Hindari menumpuk tragedi, memakai kesedihan sejak awal, atau menutup semua cerita dengan kalimat generik.


10. VISUAL BIBLE

Prinsip Utama

Gunakan Netflix Documentary Mix. Pilih medium paling kuat untuk setiap scene dan jangan menjadikan semuanya generated image.

Real Footage

Untuk lokasi masa kini, jalan, gedung, monumen, makam, dan aktivitas nyata.

Archival Photo

Untuk wajah tokoh, keluarga, peristiwa, dokumen, surat, atau benda asli.

Generated Illustration

Untuk rekonstruksi pertempuran, momen emosional, adegan masa lalu, dan metafora.

Graphic / Motion

Untuk angka, istilah, peta, timeline, sistem, dan tutorial.

Gaya Generated

Artstyle ThunderCats 2011 dengan:

  • outline tegas,
  • cel-shading,
  • anatomi heroik,
  • wajah angular,
  • pose dinamis,
  • warna sinematik,
  • background painted,
  • atmosfer dramatis.

Tetap jaga akurasi:

  • seragam,
  • era,
  • pangkat,
  • senjata,
  • kendaraan,
  • lokasi,
  • arsitektur.

Visual Progression

Cover: hero visual + ancaman.

Setup: tenang, hangat, manusiawi.

Escalation: kamera mendekat, gerakan meningkat.

Climax: aksi, siluet, cahaya, atau keputusan.

Aftermath: ruang kosong, warna dingin, gerak berhenti.

Legacy: wide shot, monumen, makam, nama jalan, atau lokasi masa kini.

Aturan Kekerasan

  • hindari gore,
  • jangan fokus pada luka,
  • gunakan siluet, cahaya, suara, benda jatuh, atau ekspresi,
  • fokus pada dampak manusia,
  • prioritaskan dignity tokoh.

11. CREATIVE ANGLE SHOT

Cover

  • Heroic Low Angle
  • Dutch Angle
  • Wide Cinematic
  • Split Composition
  • Reflection Shot
  • Extreme Close-Up

Momen Hangat

  • Eye-Level Warm Shot
  • Medium Shot
  • Over-the-Shoulder
  • Close-Up pada tangan
  • Soft Profile

Pertempuran

  • Tracking Shot
  • POV
  • Low-Angle Action
  • Wide Battlefield
  • Bird’s-Eye View
  • Ground-Level Shot

Tragedi

  • High Angle
  • Empty Room Composition
  • Negative Space
  • Object Close-Up
  • Slow Zoom Out
  • Long Shot

Legacy

  • Wide Golden Hour
  • Back View
  • Monument Framing
  • Silhouette
  • Present-Day Match Cut

Camera Rules

  • jangan mengulang angle berturut-turut,
  • angle harus mengikuti emosi,
  • close-up untuk keputusan atau benda,
  • wide shot untuk skala dan kesunyian,
  • Dutch angle hanya untuk situasi tidak stabil,
  • setiap angle harus membantu cerita.

12. DO & DON’T

DO

  • mulai dari konflik atau detail manusia,
  • verifikasi nama, pangkat, waktu, lokasi, dan kronologi,
  • jadikan tokoh sejarah sebagai pusat,
  • gunakan narrator sebagai pendukung,
  • buat setiap scene punya aksi,
  • bangun kontras emosional,
  • tutup dengan legacy atau relevansi,
  • beri disclaimer untuk dramatisasi,
  • tunjukkan dampak kepada manusia.

DON’T

  • mengarang kutipan,
  • memakai fakta kontroversial tanpa framing,
  • menggunakan gore untuk engagement,
  • glorifikasi kematian,
  • mencampur seragam, senjata, atau kendaraan lintas era,
  • menjadikan narrator superhero,
  • membuat musuh terlihat bodoh atau tidak manusiawi,
  • memenuhi slide dengan teks,
  • memakai patriotisme untuk menghakimi audiens.

13. TEMPLATE CAROUSEL

JUDUL

[Hook maksimal 8–12 kata]

SUBTITLE

[Opsional]

PILAR

[Pilih pilar]

LOGLINE

[Konflik utama]

NARRATOR

[Kapten Rimau / Kopral Kumba / Sersan Suari / Beba]

GAYA VISUAL

Netflix documentary mix + artstyle ThunderCats 2011 untuk rekonstruksi.


COVER

Text:
[Judul]

Setting:
[Lokasi, era, atmosfer]

Action:
[Aksi hook]

Creative Angle:
[Angle]


TIAP SLIDE

Text:
[Maksimal 6–9 kata]

Narasi:
[1–2 kalimat]

Medium:
[Footage / arsip / generated / graphic]

Setting:
[Lokasi]

Action:
[Aksi visual]

Creative Angle:
[Angle]


CAPTION

[Hook + ringkasan + CTA + disclaimer]

HASHTAG

#IndonesiaMemanggil #KaptenRimau


14. TEMPLATE REELS

JUDUL / TOPIK

[Isi topik]

NARRATOR

[Pilih karakter]

TONE

[Heroic / emotional / informative / warm / tense]

TIAP SCENE

Naskah:
[1 kalimat pendek]

Medium:
[Host / footage / arsip / generated / graphic]

Setting:
[Lokasi]

Action:
[Aksi]

Creative Angle / Transition:
[Angle atau transisi]

Struktur

  1. Hook

Relatable setup

Reveal

Context

Escalation

Climax atau insight

Takeaway

  1. CTA
Logo (Optional)
Upload a logo to represent your IP across the workspace.

Preview

Characters

Kapten Rimau

Kopral Kumba

Sersan Beba

Sersan Bacula

Sersan Suari