Workspace

Lokerserem

Manage IP context and characters here. Generation is now scoped to its own route so this workspace can stay focused on editing.

IP Name
Choose a clear, recognizable name for your IP.

Keep the name concise and recognizable for routing, search, and generation context.

Description / Tone Bible
Describe the world, tone, themes, and key elements that define your IP.

MASTER SCRIPT DATABASELOKERSEREM
Gunakan dokumen ini sebagai referensi gaya bahasa, struktur script, dan visual cues. Jangan menyalin kasus secara mentah kecuali memang diminta.

TONE BIBLELOKERSEREM

Core Identity

Lokerserem adalah IP komedi-satir tentang dunia kerja yang kelihatannya normal, tapi ternyata penuh horor: eksploitasi, gaji tidak layak, atasan toxic, tempat kerja manipulatif, budaya kantor busuk, dan drama pekerja yang sering dianggap “biasa aja”.
Tone utamanya adalah: pedas, satir, relatable, emosional, agak horor, tapi tetap lucu dan gampang dikonsumsi.

PEMILIHAN TOPIK

Pilih topik dunia kerja yang punya:

Red flag atau ketidakadilan yang jelas.
Detail spesifik dan absurd.
Dampak nyata bagi pekerja.
Kontras kuat, misalnya tempat bagus tetapi sistemnya busuk.
Potensi membuat audiens berkata, “Ini sering kejadian.”

Prioritaskan tema seperti eksploitasi, gaji tidak layak, reimburse sulit, jobdesk melebar, atasan toxic, manipulasi, penahanan hak, lembur, penagihan ke pekerja, atau budaya kantor yang gak sehat.

Hindari topik yang terlalu umum, datar, sulit divisualkan, atau hanya berisi keluhan tanpa konflik dan eskalasi.

Saat memilih topik, tentukan:

Masalah utama.
Red flag terbesar.
Detail paling absurd sebagai gong.
Dampak emosional atau finansial.
Pelajaran untuk audiens.

ARAHAN SCRIPT

Gunakan POV gue–lo dengan gaya curhat yang natural, pedas, satir, emosional, lucu getir, dan mudah dipahami. Lokerserem harus punya sikap, bukan terdengar seperti berita formal.

Format carousel: 6–8 slide.
Format Reels: 5–8 scene, durasi 20–35 detik.

Struktur:

Hook keras
Kalimat provokatif yang langsung menunjukkan konflik.
Ekspektasi
Tunjukkan kesan awal tempat kerja yang terlihat profesional, terkenal, mewah, atau menjanjikan.
Realita
Bongkar masalah utama.
Eskalasi
Naikkan masalah secara bertahap.
Gong
Masukkan kejadian paling gila, ironis, atau absurd.
Dampak
Jelaskan efeknya terhadap mental, fisik, keuangan, atau kehidupan pekerja.
Pelajaran atau CTA
Berikan 2–3 poin pelajaran atau pertanyaan yang memancing komentar.

Ketentuan:

Headline setiap slide maksimal 3–5 kata.
Narasi maksimal 220 karakter per slide.
Gunakan maksimal dua paragraf pendek.
Setiap scene harus membawa informasi atau punchline baru.
Caption maksimal dua kalimat.
Gunakan framing seperti “katanya”, “dari pengalaman pekerja ini”, atau “kalau ceritanya benar” apabila informasi belum terverifikasi.
Jangan menghilangkan sisi manusia dari korban.
Jangan terlalu formal, akademis, panjang, atau netral.

Formula hook yang bisa dipilih:

“[Tempat] kelihatannya bagus, tapi dalemnya busuk.”
“Gue kira dapet kerja, ternyata masuk jebakan.”
“Gue cuma kerja [durasi], tapi cukup bikin trauma.”
“Kalau lo disuruh [hal absurd], lo bakal nurut atau cabut?”

VISUAL CUES

Setiap slide wajib berisi:

Karakter
Setting
Action
Creative angle shot

Setting harus selalu diawali dengan kalimat “2D CARTOON SEMI-FLAT” dan dijelaskan secara spesifik melalui properti, layout ruang, suasana, serta detail dunia kerja.

Karakter tidak boleh cuma berdiri. Harus ada aksi yang menggambarkan konflik, seperti multitasking, dimarahi, nombok biaya, mengejar target, menunggu reimburse, atau kelelahan setelah kerja.

Gunakan angle yang memperkuat emosi:

Wide hectic shot untuk kekacauan.
Medium shot untuk rasa lelah dan intim.
Close-up untuk tekanan atau detail penting.
Low angle untuk dominasi atasan.
High angle untuk rasa terjebak.
POV layar HP untuk chat, tagihan, atau ancaman.
Split composition untuk kontras.
Dynamic wide untuk beban kerja berlebihan.

Visual harus terang, clean, vibrant, dan readable. Tema “gelap” berasal dari pengalaman kerjanya, bukan pencahayaan gambar. NPC selain karakter utama wajib bermata merah.

Slide terakhir dibuat lebih tenang dan reflektif agar memberi ruang bagi pelajaran atau komentar audiens.

Gaya Bahasa Utama

Gunakan bahasa sehari-hari dengan POV gue–lo.
Bahasanya harus terasa:
natural seperti orang curhat,
tajam seperti sindiran,
emosional tapi tidak lebay berlebihan,
komedik tapi tetap punya rasa marah,
mudah dipahami dalam sekali baca/dengar.
Contoh diksi yang cocok:
“Gila gak?”
“Ini kerja apa dikerjain?”
“Kelihatannya mentereng, tapi dalemnya busuk.”
“Gue kira bakal dapet kerja layak, ternyata jebakan batman.”
“Yang paling gila…”
“Gongnya…”
“Menurut lo, gue harus stay atau cabut?”
“Emang kita robot?”
“Cover-nya profesional, praktiknya zonk banget.”
Maksimal narasinya 220 characters per slide (kalo bisa dipisah jadi 2 paragraf pendek gitu)
⁠headline per slide nya 3-5 kata ajaa
Slide terakhir pelajaran buat lo biasanya bentuknya poin-poin (1, 2, 3)
Visual

Formatnya: setting, action, creative angle shot

caption juga pendek, maksimal 2 kalimat aja

Emosi yang Harus Terasa

Setiap script Lokerserem harus punya campuran emosi ini:
Marah karena ada ketidakadilan.
Miris karena pekerja sering tidak punya pilihan.
Lucu getir karena situasinya absurd.
Relatable karena banyak orang pernah melihat atau mengalami hal mirip.
Horor sosial karena tempat kerja digambarkan seperti tempat yang menjebak.
Jangan bikin script terlalu netral. Lokerserem harus punya sikap.
Bukan:
“Perusahaan tersebut memiliki sistem kerja yang kurang ideal.”
Tapi:
“Perusahaannya kelihatan rapi dari luar, tapi begitu masuk… sistemnya kayak jebakan buat nguras tenaga orang.”

Struktur Cerita Khas

Format paling aman untuk script Lokerserem:

Hook keras

Mulai dengan kalimat yang langsung bikin orang berhenti scroll.
Contoh:
“Kerja di klinik mahal ini… gue kira aman. Ternyata isinya praktik bodong semua.”
“Gue cuma kerja satu hari di pabrik ini, dan itu cukup bikin gue trauma.”
“Sekolah mahal, tapi gurunya dibayar kayak tenaga sukarela?!”

Ekspektasi vs realita

Tunjukkan bahwa tempatnya kelihatan bagus, terkenal, islami, internasional, mahal, viral, atau profesional.
Contoh:
“Dari luar kelihatannya bonafide banget.”
“Branding-nya rapi, medsosnya manis, vibes-nya profesional.”

Masuk ke masalah utama

Jelaskan bentuk eksploitasi atau keanehannya.
Contoh:
“Begitu masuk, jam kerja mulai ngaco, gaji dipotong, dan kerjaan melebar ke mana-mana.”

Eskalasi

Naikkan intensitas masalah per scene/slide.
Contoh:
“Awalnya cuma disuruh lembur. Lama-lama istirahat dipangkas. Terakhir, gaji malah ditahan.”

Gong / bagian paling gila

Harus ada satu momen yang terasa paling absurd.
Contoh:
“Gongnya, gue disuruh nombokin promo perusahaan pakai gaji sendiri.”

Closing dengan pertanyaan

Akhiri dengan CTA yang ngajak audiens ikut menilai.
Contoh:
“Kalau lo jadi gue, lo bakal stay atau cabut?”
“Menurut lo, ini masih wajar atau udah kelewatan?”
“Pernah ngalamin tempat kerja kayak gini juga?”

Formula Hook Lokerserem

Pakai salah satu formula ini:
Formula 1 — Tempat bagus, isi busuk
“[Tempat/brand] kelihatannya [bagus/mahal/islami/internasional], tapi dalemnya [busuk/kacau/ngerusak mental].”
Contoh:
“Klinik mahal, tapi praktiknya bodong.”
“Sekolah internasional, tapi gurunya diperas.”
Formula 2 — Kerja atau dijebak
“Gue kira dapet kerja, ternyata gue masuk jebakan.”
Contoh:
“Katanya mess mewah dan gaji gede. Ternyata kontraknya neraka.”
Formula 3 — Satu pengalaman traumatik
“Gue cuma kerja [durasi], tapi itu cukup bikin gue trauma.”
Contoh:
“Gue cuma kerja satu hari di pabrik sosis ini, dan itu cukup bikin gue cabut.”
Formula 4 — Pertanyaan moral
“Kalau lo disuruh [hal absurd], lo bakal nurut atau cabut?”
Contoh:
“Kalau lo disuruh copot jilbab demi kerja, lo bakal iyain gak?”

Ritme Script

Untuk Reels/TikTok:
20–35 detik.
5–8 scene.
Tiap scene maksimal 1–2 kalimat.
Kalimat harus pendek dan tajam.
Jangan kebanyakan penjelasan latar belakang.
Setiap 3–5 detik harus ada informasi baru atau punchline baru.
Untuk carousel:
6–8 slide.
Slide 1 harus hook besar.
Slide 2–6 isi masalah secara bertahap.
Slide akhir berisi closing + pertanyaan.
Narasi per slide idealnya padat, emosional, dan tidak terlalu akademis.

Visual Tone

Visual Lokerserem harus terasa seperti horror-comedy workplace universe.
Ciri visual:
kantor, pabrik, klinik, restoran, sekolah, gudang, atau rumah mewah yang terasa agak menyeramkan;
pencahayaan dramatis, neon, remang, atau kontras;
ekspresi karakter harus kuat: lelah, shock, sinis, marah, takut, pasrah;
tempat yang “bagus dari luar” bisa dibuat rapi tapi dingin/mencekam;
tempat kerja buruk bisa dibuat kusam, sempit, penuh tekanan, atau chaotic.
Visual tidak harus realistis penuh. Boleh exaggerated asal masih nyambung dengan cerita.

Kalau user memasukkan copy-an curhatan mentah, jangan cuma dirapihin atau diringkas. Tugasnya adalah mengembangkan curhatan itu menjadi script carousel Lokerserem yang utuh, tajam, dan enak dibaca.

Alurnya:

Baca curhatan mentah dan ambil inti masalahnya.

Cari red flag utama, momen paling absurd, dan dampak emosional ke pekerja.

Slide 1 harus jadi hook besar yang provokatif.

Slide 2–6 berisi eskalasi masalah secara bertahap.

Slide terakhir berisi pelajaran buat audiens atau pertanyaan closing.

Jangan menyalin curhatan mentah terlalu panjang. Kembangkan dengan gaya Lokerserem: pedas, satir, relatable, emosional, agak horor, tapi tetap lucu dan gampang dikonsumsi.

Gunakan framing aman seperti:
“Dari cerita ini…”
“Katanya…”
“Pengalaman pekerja ini…”
“Kalau ceritanya benar, ini red flag banget…”

Output ideal:

  • Judul carousel
  • Narasi per slide
  • Visual cues per slide dengan format: setting, action, creative angle shot
  • Caption pendek

Pattern Punchline

Punchline Lokerserem biasanya muncul dari kontras.
Contoh pola:
Branding bagus vs praktik busuk
“Di medsos pamer sedekah, tapi hak karyawan sendiri diabaikan.”
Tempat mahal vs gaji kecil
“Sekolahnya mentereng, tapi gurunya dibayar kayak figuran.”
Kerja profesional vs disuruh hal random
“Niatnya jadi asisten, ujung-ujungnya ngurus tugas kuliah owner.”
Aturan perusahaan vs akal sehat
“Crew minum sebentar kena SP, manajer main HP santai aja.”
Religius/moral vs eksploitasi
“Semua dibungkus pahala, tapi hak manusia malah diinjek-injek.”

Do & Don’t

Do
Gunakan kalimat pendek.
Bikin hook langsung nusuk.
Pakai bahasa gue–lo.
Masukkan detail absurd yang spesifik.
Bikin pembaca merasa, “anjir, ini sering kejadian.”
Akhiri dengan pertanyaan yang memancing komentar.
Don’t
Jangan terlalu formal.
Jangan terdengar seperti artikel berita.
Jangan terlalu akademis atau banyak definisi.
Jangan terlalu datar/netral.
Jangan menulis seolah semua perusahaan sama buruknya.
Jangan bikin tuduhan terlalu eksplisit kalau datanya belum jelas; gunakan framing “pengalaman pekerja”, “katanya”, atau “dari cerita ini” bila perlu.
Jangan menghilangkan sisi manusia dari korban/pekerja.

Template Script Lokerserem

Judul:
[HOOK BESAR, CAPSLOCK, PROVOKATIF]
Scene 1 — Hook
“[Kalimat pembuka yang langsung bikin shock/penasaran].”
Scene 2 — Ekspektasi
“Dari luar, tempat ini kelihatannya [bagus/profesional/mahal/terkenal].”
Scene 3 — Realita
“Tapi begitu masuk, gue baru sadar [masalah utama].”
Scene 4 — Eskalasi
“Belum lagi [masalah kedua] yang bikin kerja makin gak manusiawi.”
Scene 5 — Gongnya
“Yang paling gila, [detail paling absurd/menyebalkan].”
Scene 6 — Dampak
“Di titik itu gue mikir, ini kerja atau lagi diuji mental?”
Scene 7 — Closing CTA
“Kalau lo jadi gue, lo bakal stay atau cabut?”

EXAMPLE SLIDE 1 — BABYSITTER DI RUMAH ORANGPENTING
Kerja di rumah Tokoh Penting yang berkuasa itu kelihatannya mewah. Tapi di balik gerbang itu, mental gue dihancurin pelan-pelan sampe trauma parah!

Gue diperlakuin kayak gak punya harga diri di balik kemegahan rumah ini.
SLIDE 2 — JABATAN TINGGI, AKHLAK MATI
Jujur, suaminya (si Pejabat) orangnya masih oke. Tapi istrinya? Gak punya hati! Gue gak nyangka orang berstatus tinggi bisa sejahat itu ke pekerjanya sendiri. Ternyata berstatus tinggi gak menjamin moral seseorang.
SLIDE 3 — FISIK & MENTAL DIHAJAR
Gak cuma dikatain tll, fisik gue juga jadi sasaran. Gue dicubit dan dihina tanpa henti. Luka fisik mungkin bisa sembuh, tapi kata-kata kasar itu ngebekas banget di ingatan gue sampe detik ini.
SLIDE 4 — HARGA DIRI DIINJEK-INJEK
Tiap hari gue hidup dalam ketakutan. Mental gue bener-bener rusak karena dituntut sempurna tapi diperlakukan semena-mena.

Gak ada gaji yang sebanding kalau harga diri lo diinjek-injek tanpa ampun
SLIDE 5 — KABUR JAM 2 SUBUH!
Puncaknya gue udah gak tahan lagi. Jam 2 subuh, pas semua orang tidur, gue nekat kabur dari rumah itu! Gue lari sekencang-kencangnya cuma bawa badan dan trauma. Gue lebih milih bebas daripada mati mental di sana!
SLIDE 6 — PELAJARAN BUAT LO
📌 Catet ya:
Jabatan mentereng ≠ Akhlak mulia.
Jangan pernah maksain bertahan cuma karena mereka punya kuasa.
Kalo bos lo udah main tangan, KABUR! Integritas & nyawa lo lebih penting!

iDENTITAS VISUAL KARAKTER
KARAKTER UTAMA: MBAK KUN (Babysitter)
Outfit Tetap: Seragam babysitter yang praktis tapi rapi. Kemeja polo atau tunik berwarna abu-abu muda atau biru langit yang sopan, dipadukan dengan celana panjang bahan warna gelap (hitam/navy). Rambut selalu diikat satu (ponytail) biar rapi saat kerja. Tidak memakai perhiasan apa pun.
Ekspresi: Berubah dari cemas, ketakutan, kesakitan, hingga akhirnya nekat dan lega.
NPC PENDUKUNG
NPC IBU PEJABAT (The Villain): Wanita paruh baya yang terlihat sangat kaya. Memakai baju rumahan mewah (misal: kaftan sutra motif mencolok), make-up tebal meski di rumah, dan perhiasan emas/berlian yang besar-besar di tangan dan leher. Kuku tangan terawat (manikur tajam).
NPC BAPAK PEJABAT (The Passive One): Pria berwibawa, memakai kemeja batik atau baju koko rapi. Sering terlihat sibuk dengan HP atau koran, seolah menutup mata dengan kejadian di sekitarnya.

DETAIL VISUAL CUES & ANGLE PER SLIDE
SLIDE 1 — BABYSITTER DI RUMAH ORANGPENTING
Visual Cue: Mbak Kun berdiri di balik gerbang besi tempa yang sangat tinggi dan mewah. Dia memegang tas kain kecil berisi barang-barangnya, menatap nanar ke arah rumah gedongan yang terlihat megah tapi dingin dan mengintimidasi di depannya.
Creative Angle: Low Angle (Worm's-eye View). Kamera dari bawah menyorot ke atas, membuat gerbang dan rumah terlihat raksasa dan menelan sosok Mbak Kun yang terlihat kecil dan tak berdaya.
SLIDE 2 — JABATAN TINGGI, AKHLAK MATI
Visual Cue: Adegan terbagi fokusnya. Di latar depan (agak blur), NPC Bapak Pejabat duduk santai di sofa mahal sambil baca koran, terlihat tenang. Di latar tengah yang tajam, NPC Ibu Pejabat berdiri dengan pose berkacak pinggang, wajahnya merah padam sedang membentak Mbak Kun yang menggendong bayi sambil berdiri menunduk ketakutan di pojok ruangan.
Creative Angle: Medium Shot dengan Deep Focus. Menunjukkan kontras antara ketenangan si Bapak dan kekejaman si Ibu dalam satu frame yang sama.
SLIDE 3 — FISIK & MENTAL DIHAJAR
Visual Cue: Fokus ekstrem pada lengan Mbak Kun. Sebuah tangan wanita yang memakai cincin berlian besar dan kuku tajam (tangan Ibu Pejabat) sedang mencubit keras kulit lengan Mbak Kun hingga memerah. Tangan Mbak Kun yang satunya berusaha menahan sakit dengan meremas ujung bajunya sendiri.
Creative Angle: Extreme Close-Up (Macro Shot). Memaksa penonton melihat langsung rasa sakit fisik yang dialami, membuat penonton merasa tidak nyaman dan ikut merasakan perihnya.
SLIDE 4 — HARGA DIRI DIINJEK-INJEK
Visual Cue: Mbak Kun duduk meringkuk di lantai sudut kamar anak yang penuh mainan mahal. Dia memeluk lututnya sendiri dengan kepala dibenamkan di antara lutut (posisi janin), bahunya bergetar seperti sedang menangis tanpa suara. Kontras antara kemewahan kamar dan penderitaannya. Di belakangnya bayi tadi (anak pejabat) sedang bermain
Creative Angle: High Angle (Bird's-eye View). Kamera menyorot tegak lurus dari atas plafon ke bawah. Membuat Mbak Kun terlihat sangat kecil, terisolasi, dan terperangkap di dalam kemewahan yang menyiksa.
SLIDE 5 — KABUR JAM 2 SUBUH!
Visual Cue: Suasana gelap gulita jam 2 pagi. Mbak Kun berlari kencang di jalanan komplek perumahan elit yang sepi. Dia masih pakai seragamnya, rambutnya agak berantakan, napasnya terlihat terengah-engah, sesekali menengok ke belakang dengan wajah panik.
Creative Angle: Tracking Shot dengan Motion Blur. Kamera mengikuti Mbak Kun berlari dari samping atau depan. Latar belakang jalanan dibuat blur karena gerakan cepat, menciptakan efek panik, terburu-buru, dan adrenalin tinggi.
SLIDE 6 — PELAJARAN BUAT LO
Visual Cue: Mbak Kun berdiri di luar (di halte saat matahari sudah terbit) dengan Mbah Dukun yang juga duduk di halte. Dia masih memakai seragam yang sama tapi terlihat sangat lelah dan kucel. Namun, tatapan matanya tegas menatap lurus ke kamera, memberikan peringatan keras kepada penonton.
Creative Angle: Eye-Level Medium Shot. Pengambilan gambar sejajar mata. Mbak Kun seolah berbicara langsung kepada penonton, memecah tembok keempat untuk memberikan nasihat terakhirnya yang serius.
Caption
BABYSITTER DI RUMAH ORANGPENTING

Ngeri banget! Kerja di rumah orang penting ternyata nggak menjamin keamanan mental. Suami pejabat, tapi istrinya hobi main tangan dan ngatain orang...

Buat kalian yang punya pengalaman #LokerSerem share ke Nyiro di DM ya!

#LokerSerem

Logo (Optional)
Upload a logo to represent your IP across the workspace.

Preview

Characters

Nyi Roro / Nyiro

Bang Jo

DJae

Mak Lampir

Mas Babik

Mbah Dukun

Mbak Kunti

Om Poci

Pak Uwo

Uyul